Home » Layanan » Pendidikan Inklusi » Penggolongan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK)

Penggolongan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK)

Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) yaitu peserta didik dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan peserta didik pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi ataupun fisik. (Heward, 2006)

PDBK memiliki istilah lain yakni anak cacat/anak yang memiliki kecacatan, anak yang memiliki kelainan, anak luar biasa, anak yang memiliki ketunaan, anak berkebutuhan khusus atau children with special needs.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 70/2009 Pasal 3 ayat 1, penggolongan PDBK dibagi menjadi:
– Tunanetra
– Tunarungu
– Tunawicara
– Tunagrahita
– Tunadaksa
– Tunalaras
– Berkesulitan Belajar
– Lamban Belajar
– Autis
– Memiliki Hambatan Motorik
– Menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan adiktif lainnya
– Memiliki kelainan lainnya
– Tunaganda

Penggolongan PDBK
1. Hambatan Penglihatan
Hambatan penglihatan pada anak disebut dengan istilah tunanetra. Anak yang tergolong tunanetra tidak dapat atau kurang dapat melihat.
Karakteristik:
– Sering menabrak ketika bergerak
– Kesulitan membaca huruf pada buku bacaan atau tulisan pada papan tulis
– kesulitan menulis pada garis lurus
– Memegang buku dekat dengan muka ketika membaca
– Sering mengeluh kepala pusing, mata gatal atau berair
– Bentuk dan warna bola mata berbeda; bola mata bergoyang-goyang, mengecil atau berwarna putih.
– Sering meletakan barang di tempat yang salah
– Sulit meniru gerakan
– Sulit mengenal gambar jika warna kurang kontras
– Sering hendak terjatuh jika melewati rintangan jalan
– Suka meraba barang yang dipegang atau yang ada didekatnya

2. Hambatan Pendengaran
Hambatan pendengaran dikenal dengan istilah tunarungu. Anak yang memiliki hambatan pendengaran tidak dapat atau kurang dapat mendengar. Kesulitan untuk mendengarkan, kebayakan diikuti dengan kesulitan untuk berbicara, sehingga anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran kebanyakan juga mengalami gangguan bicara.
Karakteristik menurut UNESCO:
– Tidak menyadari adanya bunyi atau suara
– Tidak dapat melihat ke sumber suara
– Terlihat mendekatkan telinga pada sumber suara
– Sulit untuk berbicara atau berbicara dengan kata yang tidak jelas dengan suara keras
– Sulit untuk mengungkapkan perasaan dengan tepat
– Cenderung menggunakan mimic atau gerakan (tangan dan tubuh) untuk berkomunikasi
– Cenderung pemata atau milihat anak lain melakukan sesuatu sebelum dia melakukan apa yang diminta

3. Hambatan Gerak
Istilah lain dari hambatan gerak dikenal dengan tunadaksa. Anak yang memiliki hambatan gerak biasanya kurang dapat menggunakan tangan dan kakinya untuk bergerak.
Tingkat hambatan:
a. Ringan: memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik, kualitas gerakan motorik dapat meningkat melalui terapi
b. Sedang: memiliki keterbatasan motorik, mengalami gangguan koordinasi sensorik
c. Berat: memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik, tidak mampu mengontrol gerakan fisik
Karakteristik:
– Sulit menggerakan tubuh
– Sulit untuk berpindah dari suatu posisi ke posisi lain
– Sulit meraih/mengambil benda di tempat yang tinggi
– Gerakan tubuh kaku dan layu
– Sering terjatuh
– Bila terjadi kekakuan pada otot bicara, maka diantara mereka dengan hambatan gerak juga akan mengalami hambatan bicara seperti pada mereka yang cerebral palsy (CP).

4. Hambatan Intelektual
Berbagai istilah yang sering digunakan untuk hambatan intelektual yaitu retardasi mental, cacat mental, gangguan intelektual, atau tunagrahita. Anak yang biasanya mengalami perkembangan yang lambat secara fisik, memiliki kemampuan inteligensi yang signifikan berada di bawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku.
Karakteristik:
– Perilaku tidak sesuai dengan usia (kekanak-kanakan)
– Sulit memahami hal yang abstrak
– Sulit mengingat atau daya ingat lemah
– Sulit mengikuti instruksi panjang/rumit
– Membutuhkan pengulangan dalam belajar

5. Kecerdasan Istimewa
Anak yang memiliki kecerdasan istimewa disebut juga cerdas istimewa bakat istimewa (gifted and talented). Anak tersebut biasanya memiliki kelebihan dan keistimewaan dalam hal kecerdasan, kreativitas, kemampuan berpikir secara kritis dan memiliki kemampuan mengekspresikan diri dalam beberapa bahasa, namun mereka cenderung mengalami kesulitan dalam belajar dan kesulitan dalam berprilaku yang berdampak pada tampilan nilai akademis, konsep diri, dan cara bersosialisasi.
Karakteristik:
– Cepat mengerti instruksi
– Cepat memahami konsep/penjelasan
– Cepat mengerjakan tugas
– Menunjukan keterlibatan yang tinggi
– Punya komitmen
– Kreatif dan inovatif
– Memiliki skor intelegensi diatas 130 (Bagi anak cerdas istimewa)
– Mudah bosan bila pelajaran diulang
– Menjadi usil dan suka mondar-mandir bila tidak ada yang dikerjakan
– Memiliki kemampuan untuk memimpin kelompoknya
– Terkadang kurang teliti dan menggampangkan pengerjaan tugas

6. Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar memiliki arti yaitu hambatan dalam satu atau lebih proses psikologi dasar yang melibatkan pemahaman atau penggunaan bahasa, lisan atau tertulis, yang termanifestasikan dalam suatu kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau melakukan perhitungan matematika. Hal ini merupakan kondisi dari hambatan perceptual, cedera otak, disfungsi minimal otak, disleksia, dan aphasia perkembangan. Pengertian tersebut tidak meliputi anak-anak yang memiliki permasalahan-permasalahan belajar yang disebabkan oleh hambatan-hambatan penglihatan, pendengaran, atau motorik, tunagrahita, atau hambatan emosional atau ketidakberuntungan lingkungan, budaya atau ekonomi. (USEO, 1977).
Karakteristik:
-Kesulitan dalam mengekspresikan diri
– Kesulitan dalam menulis/membaca
– Kesulitan dalam memahami arah dan kikuk dalam bergerak
– Menunjukan gangguan orientasi arah ruang (kanan-kiri, atas-bawah, depan-belakang)
– Keterlambatan perkembangan konsep (ukuran, bentuk, operasi aritmatika)

7. Lambat Belajar
Karakteristik:
– IQ di antara 70-90
– Proses belajar lambat sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama
– Nilai pada seluruh mata pelajaran rendah

8. AUTIS
Autis yaitu anak yang memiliki gangguan perkembangan yang secara signifikan mempengaruhi kemampuan komunikasi verbal dan non-verbal serta interaksi sosialnya.
Karakteristik:
– Memiliki aktivitas yang berulang-ulang
– Terlambat dalam perkembangan komunikasi/bahasa
– Rentan terhadap perubahan lingkungan atau perubahan aktivitas rutin
– Tidak ada kontak mata
– Menunjukan respon yang tidak biasa terhadap pengalaman sensorik
– Mengalami hambatan dalam bahasa dan interaksi sosial
– Pada beberapa anak ada yang memiliki kemampuan khusus yang berkembang sangat baik
– Sebagian anak Autis menunjukan hiperaktivitas
– Sebagian anak ada yang diam bahkan tidak bisa bicara sama sekali

9. Tunalaras
Tunalaras memiliki arti yaitu individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial.

10. Hambatan Wicara
Hambatan wicara dapat juga disebut dengan istilah tunawicara. Tunawicara yaitu mereka yang menderita gangguan berbicara sehingga tidak dapat berbicara dengan jelas.

Sumber: Hellen Keller International Indonesia, USAID Indonesia dan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*