FGD SEKOLAH LAYAK ANAK

Published by Dinas Pendidikan Kota Depok on

Pada tanggal 15 oktober 2019, pukul 14.00 bertepat di Ruang Rapat Besar Dinas Pendidikan Kota Depok, diadakan Focus Group Discussion antara Dinas Pendidikan Kota Depok, Dinas Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Keluarga serta Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI) yang membahas tentang Sekolah Layak Anak.

Pada kesempatan itu KPAI memaparkan tujuan dari FGD tersebut adalah : Menyediakan ruang bagi guru, siswa dan praktisi untuk berbagi pengalaman bagaimana menyelenggarakan sekolah ramah anak, Mendapatkan masukan-masukan untuk optimalisasi pengembangan program sekolah amah anak, Mendorong pemerintah untuk melakukan replikasi model pembelajaran ramah anak dalam upaya memenuhi dan melindungi hak-hak anak dan mencari serta menggali bentuk-bentuk pendisiplinan tanpa kekerasan. Adapun output dari acara tersebut diharapkan menghasilkan model/bentuk-bentuk sekolah layak anak.
Sementara itu perwakilan KPAI , menuturkan “Diskusi ini merupakan bentuk komitmen untuk menjadikan dunia ramah anak, yang turunannya berupa, Kota Ramah Anak, Mudik Ramah Anak, Kampanye Ramah Anak dan Sekolah Ramah Anak“. Oleh karenannya ia berharap diskusi ini mampu memberikan kontribusi bagi anak-anak Indonesia sesuai dengan amandemen UUD 1945 yang merupakan landasan dari Perlindungan Anak.Pada kesempatan itu, Ketua KPAI mengatakan bahwa hampir semua aduan ke KPAI terkait dengan Sekolah. Banyak sekali persoalan – persoalan yang dapat disisir dari berbagai persoalan di sekolah imbuhnya. Mbak Bad, panggilan akrab Badriyah Fayumi, mengingatkan bahwa guru dan orang tua adalah orang yang berada di garda paling depan untuk melindungi anak, pesannya.

Sekolah Ramah Anak (SRA) harus dibangun disemua sektor, oleh karenanya SRA harus melibatkan semua pihak. Karena SRA menyangkut berbagai hal; sarana / prasarana harus ramah anak, mendengarkan suara anak dan lain-lain. Bebas dari kekerasan di Sekolah, hanyalah salah satu dari indicator SRA urainya.

Sementara itu FGD memberikan kesimpulan diantaranya; Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah sebuah kebutuhan agar anak bisa belajar dengan nyaman, senang, tentram, tidak terancam, menumbuhkan karakter dan mandiri; SRA harus mengintegrasikan prinsip-prinsip perlindungan anak ke dalam penyelenggaraan pendidikan, yang melibatkan Manajemen Sekolah yang tidak mengecilkan partisipasi anak-anak dalam pengambilan keputusan, pembelajaran yang aktif, menyenangkan dan interaksi yang positif antara guru dan siswa di sekolah, serta keterlibatan langsung orang tua dan masyarakat; Peran sekolah, terutama Kepala Sekolah dan Guru, sangat penting untuk menerapkan SRA. Namun demikian, rancangan SRA harus berangkat dari kebutuhan anak (siswa-siswi). Peserta didik bukan obyek, melainkan menjadi subyek pendidikan, yang akan mendapat pelayanan SRA. (AI/)